Mengevaluasi Sistem Ekonomi

Mengevaluasi Sistem Ekonomi

Mengevaluasi Sistem Ekonomi – Sistem ekonomi dapat dievaluasi melalui pencapaian tujuan-tujuan perekonomian. Setiap sistem ekonomi memiliki 3 tujuan utama, yaitu:

  1. Stabilitas, merupakan kondisi dimana keseimbangan antara kesediaan uang dalam suatu ekonomi dan barang yang diproduksi didalamnya meningkat pada tingkat yang sama.
  2. Full employment, bahwa setiap orang yang ingin bekerja memiliki peluang untuk mendapatkannya. Didallam realitasnya full employment tidak mungkin  terjadi karena distribusi orang dan pekerjaan tidak persis sama. Hal ini menjadikan perekonomian suatu negara selalu dihadapkan pada masalah tingkat pengangguran.
  3. Pertumbuhan, pada umumnya menjadi tujuan mendasar sebagian besar sistem ekonomi. Pertumbuhan adalah peningkatan jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh sumberdaya negara.

Bisnis dan Sistem Ekonomi

Bisnis dan Sistem Ekonomi – Bisnis adalah suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa untuk mendapatkan profit. Di mana yang dimaksud dengan profit adalah perbedaan antara pendapatan suatu bisnis dan beban-bebannya.

Teori Manajemen Kuliah

Sistem ekonomi adalah sistem suatu negara untuk mengalokasikan sumber dayanya di antara warga negaranya baik individu maupun organisasi.

Faktor-faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam produksi barang dan jasa, yaitu tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan, sumber daya alam, dan sumber daya informasi.

Ada 3 jenis sistem ekonomi, yakni planned economy (perekonomian terpimpin), market economy (perekonomian pasar), dan mixed market economy (perekonomian pasar campuran)

Sekilas Tentang Good Corporate Governance

Sekilas Tentang Good Corporate Governance

good corporate governanceGood Coorporate Governance (GCG) adalah tata kelola dalam dunia bisnis.  Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa Good Coorporate Governance adalah tata kelola suatu proses atau struktur untuk meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang dengan memperhatikan kepentingan stake holder berlandaskan peraturan perundang-undangan, moral, dan etika.

Tujuan pelaksanaan Good Coorporate Governance adalah :

  1. Memaksimalkan aktifitas untuk mempercepat tercapainya visi, misi, tujuan, dan sasaran perusahaan.
  2. Mengoptimalkan nilai perusahaan dalam kurun waktu yang panjang dengan cara meningkatkan penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggungjawab dan adil, dengan harapan mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
  3. Memaksimalkan pengelolaan perusahaan secara profesional, tertib aturan, transparan, efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian.
  4. Mengoptimalkan pengelolaan resiko dan sumberdaya perusahaan ke arah yang lebih produktif.
  5. Meningkatkan nilai investasi perusahaan.
  6. Membudayakan setiap pimpinan membuat dan melaksanakan keputusan berlandaskan pada nilai moral yang tinggi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stake holder.
  7. Meningkatkan kontribusi dan peranan perusahaan dalam perekonomian nasional.

Landasan hukum GCG :

  1. TAP MPR XI/MPR/1998 tahun 1998 tentang Penyelenggaran Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
  2. UU RI No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi  yang telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001.
  3. UU RI No 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
  4. UU RI No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN.
  5. SK Menneg BUMN No KEP-103/MBU/2002 tentang Penerapan Praktek GCG pada BUMN.
  6. Kep Menneg/Kepala BKPM No. Kep-23/PMPBUMN/2000 tanggal 31 Mei 2000 tentang Pengembangan Praktek GCG dalam Perusahaan Perseroan.

Pengertian Good Corporate Governance menurut Syakhora dalam Dadang dan Sylvana (2007) adalah suatu sistem yang dipakai board untuk mengarahkan dan mengendalikan serta mengawasi pengelolaan sumber daya organisasi secara efisien, efektif, ekonomis, dan produktif.

Prinsip-prinsip GCG :

Transparansi :
Yaitu keterbukaan dalam menjalankan proses pengambilan keputusan.

Pengungkapan :
Yaitu pemberian informasi kepada stake holder baik diminta maupun tidak, tentang berbagai hal menyangkut kinerja operasional, resiko usaha, keuangan.

Kemandirian :
Yaitu perusahaan dikelola secara profesional tanpa mengorbankan kepentingan yang lain.

Pertanggungjawaban :
Yaitu kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kewajaran :
Yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stake holder.

Elemen GCG :

  1. Fokus kepada Board.
  • Untuk PT : Direksi dan Komisaris.
  • Untuk Pemerintah : Presiden dan DPR atau Kepala Daerah dan DPRD.
  1. Hukum dan Peraturan.
  2. Pengelolaan Sumberdaya dengan kaidah ekonomis, efektif, dan efisien.
  3. Transparan, Akuntabiliti, Responsibiliti. Independensi, Fairness (TARIF).

Tujuan perusahaan :

Pengendalian strategik, sebab GCG adalah salah satu instrumen pengendalian strategik perusahaan.

Ruang Lingkup GCG :

  1. Pendekatan moral.
  2. Adil, taat peraturan, sesuai nilai agama.
  3. Pendekatan budaya.
  4. Pendekatan kesisteman
  • Penerapan GCG pada Komisaris dan Direksi.
  • Penerapan GCG dalam bidang operasional.
  • Penerapan GCG pada pimpinan manajerial.

Hambatan Penerapan GCG :

  1. Tradisi birokratis yang masih korup.
  2. Rendahnya gaji di kalangan birokrat.
  3. Pengawasan yang tidak memadai.
  4. Transparansi dari peraturan dan hokum.

Akibat jika tidak melaksanakan GCG :

  1. Timbulnya ketidakpercayaan masyarakat.
  2. Merosotnya kepercayaan karyawan.
  3. Merosotnya kepercayaan kreditur.
  4. Menimbulkan keraguan pemerintah.

Tindak Lanjut GCG :

  1. Mereview dan merivisi atau menyempurnakan berbagai peraturan.
  2. Setiap peraturan mencantumkan sanksi atas pelanggaran.
  • Hukuman disiplin.
  • Tuntutan ganti rugi.
  • Proses hukum politik.

Pengukuran dan Penilaian GCG :

  • Dapat dilakukan mandiri untuk mengetahui posisi perusahaan.
  • Dapat menggunakan lembaga independen apabila ingin dipercaya masyarakat.

Lembaga yang mengaudit dapat berupa :

  • Komite audit.
  • Badan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan.
  • Pengawasan atas kebenaran penilaian dan ketepatan waktu pelaporan.
  • Menindak lanjuti semua hasil penilaian ke dalam laporan perusahaan.
  • Analisis untuk evaluasi guna penyempurnaan proses, hasil, dan dampaknya.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN

 

faktor yang mempengaruhi konsumen

1. Faktor Sosial

a. Grup
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).

b. Pengaruh Keluarga
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).

c. Peran dan Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

2. Faktor Personal

a. Situasi Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).

b. Gaya Hidup
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)

c. Kepribadian dan Konsep Diri
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).

d. Umur dan Siklus Hidup
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)

e. Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

3. Faktor Psikologi

a. Motivasi
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).

b. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).

c. Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).

d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

4. Faktor Kebudayaan

Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).

a. Subkultur
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).

b. Kelas Sosial
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).

Dinamika Bisnis Jasa dan Pentingnya Pemasaran Jasa

A.    Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Perkembangan Jasa

Pemasaran yang bergerak disektor jasa dipengaruhi oleh variabel yang dapat dikontrol (bauran pemasaran jasa) dan variabel yang tidak dapat dikontrol (lingkungan). Variabel yang berpengaruh terhadap perkembangan industri jasa adalah :

1.      Konsumen

2.      Pesaing

3.      Teknologi-Inovasi

4.      Globalisasi/Internasionalisasi

5.      Ekonomi

6.      Pemerintah

7.      Budaya dan Sosial

 

B.     Berbagai Faktor Pendorong Sektor Jasa

Sektor jasa mengalami perubahan luar biasa dan perubahan itu tidak hanya dipengaruhi oleh variabel lingkungan. Perubahan-perubahan besar tersebut adalah :

1.      Kualitas (Quality)

2.      Pengurangan Biaya (Cost Control)

3.      Pelayanan Jasa (Customer Service)

4.      Definisi Baru Tentang Konsumen

5.      Peningkatan Produktivitas

6.      Organisasi Nirlaba dan Publik Mencari Sumber Pendapatan Baru

 

C.    Isu-isu Strategi Pemasaran Jasa

Beberapa perubahan tren ke depan industri jasa sangat didukung oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi juga memungkinkan bagi perusahaan jasa mengurangi intensitas pelayanan secara langsung dengan konsumen (high contact service) menjadi keterlibatan kontak yang rendah (low contact service) sehingga dapat mengurangi masalah service delivery.

 

D.    Definisi Jasa

Jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau konstruksi, yang biasanya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah atau pemecahan atas masalah yang dihadapi konsumen. Dari berbagai definisi yang dicetuskan oleh para pakar, tampak bahwa di dalam jasa selalu ada aspek interaksi antara pihak konsumen dan pemberi jasa, meskipun pihak-pihak yang terlibat tidak selalu menyadari.

 

E.     Karakteristik Jasa

Terdapat 6 karakteristik unik yang dimiliki oleh produk jasa, yaitu :

1.      Intangibility : fitur yang tidak nampak (intangible feature)

2.      Inseparability : tidak terpisahkan antara produksi dan konsumsi (momenth of truth)

3.      Perishability : mudah rusak (here today, gone tomorrow)

4.      Heteroginity : bervariasi (the need for quality assurance)

5.      Client-based relationship

6.      Kontak kepada konsumen (customer contact)

 

F.      Klasifikasi Jasa

Produk jasa diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :

1.      Berdasarkan tingkat kontak konsumen dengan pemberi jasa sebagai bagian dari sistem saat jasa tersebut dihasilkan, dibedakan ke dalam 2 kelompok : high-contact system dan low-contact system.

2.      Berdasarkan kesamaannya dengan operasi manufaktur, dibedakan ke dalam 3 kelompok : pure service, quasimanufacturing service dan mixed service.