Gambaran, Proses, Tipe dan Gaya Pengambilan Keputusan

Gambaran, Proses, Tipe dan Gaya Pengambilan Keputusan

manajer pengambilan keputusan

A. Gambaran Umum.

Salah satu fungsi seorang manajer adalah mengambil keputusan dalam menjalankan organisasi.

 

B. Proses pengambilan keputusan.

  1. Mengidentifikasi atau menganalisis masalah.
  2. Mengidentifikasi kriteria keputusan.

 

C. Tipe-tipe keputusan :

  1. Keputusan diprogram : keputusan-keputusan rutin.
  2. Keputusan tidak diprogram : keputusan-keputusan sekali pakai.

 

D. Gaya pengambilan keputusan :

  1. Gayamengarahkan.
  2. Gayaanalisis.
  3. Gayakonseptual.
  4. Gayaperilaku.

 

E. Hambatan psikologis ketika mengambil sebuah keputusan :

  1. Penyakit Hamlet : adanya keraguan.
  2. Dorongan berlebihan : tergesa-gesa.
  3. Kecemasan memikirkan akibat : terlalu khawatir.
  4. Berdiam diri : memperlambat pengambilan keputusan.

 

F. Berbagai tindakan jika keputusan gagal dilaksanakan :

  1. Menyadari. Menyadari kegagalan adalah penting untuk segera mengambil tindakan perbaikan.  Kegagalan bisa juga disebabkan faktor lingkungan.
  1. Melangkah mundur. Apabila pengambilan keputusan mengalami hambatan. Kita dapat berhenti untuk menganalisis di titik mana ada kesalahan.  Ini disebut melangkah mundur untuk melihat kesalahan dan ini lebih baik daripada terus melangkah.
  1. Mengganti. Ini dilakukan jika personil yang ditunjuk tidak cakap melaksanakan tugas yang diberikan sehingga perlu diganti
  1. Mengubah Jika sudah diputuskan, tidak mudah mengubah personil.  Namun jika menghadapi kendala, kita dapat memodifikasi keadaan dengan penambahan, pengurangan, dan perbaikan dari rencana yang telah disusun, dengan berkonsultasi dengan jajaran atas, selevel, dan bawah untuk memperoleh dukungan.

 

G. Berbagai penyebab terjadinya kesulitan ketika akan mengambil keputusan.

Seorang manajer terkadang sulit mengambil keputusan, hal ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya adalah :

  1. Kurang lengkapnya informasi dan data yang kita perlukan.
  2. Kesulitan menggunakan tolok ukur.
  3. Munculnya tujuan ganda.
  4. Adanya lebih dari 1 orang yang berwenang mengambil keputusan.

 

H. Meningkatkan keterlibatan kelompok dalam pembuatan keputusan.

Pembuatan keputusan akan lebih optimal jika kita dapat melibatkan kelompok kita dalam pengambilan keputusan.  Ini penting karena dapat menggali masukan-masukan dari anggota kelompok untuk hasil yang lebih optimal, karena kita telah melibatkan seluruh potensi yang ada di organisasi.

 

I. Teknik-teknik pembuatan keputusan kelompok :

  1. Teknik curah pendapat temu muka.
  • Setiap anggota kelompok bebas mencurahkan pendapat apapun.
  • Semakin besar ide semakin baik.
  1. Teknik kelompok nominal.

Mirip dengan individual brainstorming.  Hanya di sini anggota kelompok bekerja di antara kehadiran orang lain.  Lalu ide-ide peserta dapat dilihat perserta lain.  Hal ini dapat memberikan hambatan karena adanya perasaan diawasi.

  1. Teknik Delphi.

Teknik di mana melibatkan para ahli untuk menanggapi sejumlah pertanyaan dari anggota sehingga mencapai suatu kesepakatan atas suatu persoalan.

  1. Teknik pendapat elektronik.

Adalah kombinasi antara teknik nominal dengan teknologi komputer. Hasilnya akan lebih cepat, karena tidak perlu menunggu giliran.  Disamping itu dapat bebas tanpa takut dievaluasi karena tidak diketahui nama si pemberi ide.  Hanya memiliki beberapa kelemahan, di antaranya adalah lebih mahal, dan lalu bagi sebagian orang ada yang lebih terampil bicara lisan daripada menggunakan komputer.

 

Sekilas Tentang Good Corporate Governance

Sekilas Tentang Good Corporate Governance

good corporate governanceGood Coorporate Governance (GCG) adalah tata kelola dalam dunia bisnis.  Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa Good Coorporate Governance adalah tata kelola suatu proses atau struktur untuk meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang dengan memperhatikan kepentingan stake holder berlandaskan peraturan perundang-undangan, moral, dan etika.

Tujuan pelaksanaan Good Coorporate Governance adalah :

  1. Memaksimalkan aktifitas untuk mempercepat tercapainya visi, misi, tujuan, dan sasaran perusahaan.
  2. Mengoptimalkan nilai perusahaan dalam kurun waktu yang panjang dengan cara meningkatkan penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggungjawab dan adil, dengan harapan mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
  3. Memaksimalkan pengelolaan perusahaan secara profesional, tertib aturan, transparan, efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian.
  4. Mengoptimalkan pengelolaan resiko dan sumberdaya perusahaan ke arah yang lebih produktif.
  5. Meningkatkan nilai investasi perusahaan.
  6. Membudayakan setiap pimpinan membuat dan melaksanakan keputusan berlandaskan pada nilai moral yang tinggi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stake holder.
  7. Meningkatkan kontribusi dan peranan perusahaan dalam perekonomian nasional.

Landasan hukum GCG :

  1. TAP MPR XI/MPR/1998 tahun 1998 tentang Penyelenggaran Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
  2. UU RI No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi  yang telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001.
  3. UU RI No 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
  4. UU RI No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN.
  5. SK Menneg BUMN No KEP-103/MBU/2002 tentang Penerapan Praktek GCG pada BUMN.
  6. Kep Menneg/Kepala BKPM No. Kep-23/PMPBUMN/2000 tanggal 31 Mei 2000 tentang Pengembangan Praktek GCG dalam Perusahaan Perseroan.

Pengertian Good Corporate Governance menurut Syakhora dalam Dadang dan Sylvana (2007) adalah suatu sistem yang dipakai board untuk mengarahkan dan mengendalikan serta mengawasi pengelolaan sumber daya organisasi secara efisien, efektif, ekonomis, dan produktif.

Prinsip-prinsip GCG :

Transparansi :
Yaitu keterbukaan dalam menjalankan proses pengambilan keputusan.

Pengungkapan :
Yaitu pemberian informasi kepada stake holder baik diminta maupun tidak, tentang berbagai hal menyangkut kinerja operasional, resiko usaha, keuangan.

Kemandirian :
Yaitu perusahaan dikelola secara profesional tanpa mengorbankan kepentingan yang lain.

Pertanggungjawaban :
Yaitu kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kewajaran :
Yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stake holder.

Elemen GCG :

  1. Fokus kepada Board.
  • Untuk PT : Direksi dan Komisaris.
  • Untuk Pemerintah : Presiden dan DPR atau Kepala Daerah dan DPRD.
  1. Hukum dan Peraturan.
  2. Pengelolaan Sumberdaya dengan kaidah ekonomis, efektif, dan efisien.
  3. Transparan, Akuntabiliti, Responsibiliti. Independensi, Fairness (TARIF).

Tujuan perusahaan :

Pengendalian strategik, sebab GCG adalah salah satu instrumen pengendalian strategik perusahaan.

Ruang Lingkup GCG :

  1. Pendekatan moral.
  2. Adil, taat peraturan, sesuai nilai agama.
  3. Pendekatan budaya.
  4. Pendekatan kesisteman
  • Penerapan GCG pada Komisaris dan Direksi.
  • Penerapan GCG dalam bidang operasional.
  • Penerapan GCG pada pimpinan manajerial.

Hambatan Penerapan GCG :

  1. Tradisi birokratis yang masih korup.
  2. Rendahnya gaji di kalangan birokrat.
  3. Pengawasan yang tidak memadai.
  4. Transparansi dari peraturan dan hokum.

Akibat jika tidak melaksanakan GCG :

  1. Timbulnya ketidakpercayaan masyarakat.
  2. Merosotnya kepercayaan karyawan.
  3. Merosotnya kepercayaan kreditur.
  4. Menimbulkan keraguan pemerintah.

Tindak Lanjut GCG :

  1. Mereview dan merivisi atau menyempurnakan berbagai peraturan.
  2. Setiap peraturan mencantumkan sanksi atas pelanggaran.
  • Hukuman disiplin.
  • Tuntutan ganti rugi.
  • Proses hukum politik.

Pengukuran dan Penilaian GCG :

  • Dapat dilakukan mandiri untuk mengetahui posisi perusahaan.
  • Dapat menggunakan lembaga independen apabila ingin dipercaya masyarakat.

Lembaga yang mengaudit dapat berupa :

  • Komite audit.
  • Badan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan.
  • Pengawasan atas kebenaran penilaian dan ketepatan waktu pelaporan.
  • Menindak lanjuti semua hasil penilaian ke dalam laporan perusahaan.
  • Analisis untuk evaluasi guna penyempurnaan proses, hasil, dan dampaknya.

Jenis-Jenis Manajer dan Keterampilan Manajer

Jenis-jenis atau tingkatan manajer menurut Robbins dan Coulter (1999) adalah :

Manajer lini pertama : Manajer tingkat paling rendah. Para manajer ini sering disebut penyelia, manajer kantor, manajer departemen.

Manajer menengah : Mencakup semua tingkat manajemen antara tingkat penyelia dan tingkat puncak. Misalnya kepala bagian, kepala biro, manajer pabrik, manajer devisi, general manajer, dekan.

Manajer puncak : Manajer yang bertanggung jawab atas pengambilan Keputusan organisasi. Misalnya presiden direktur, CEO, COO, presiden komisaris.

Perbedaan tingkatan manajemen mempengaruhi fungsi manajemen yang dilakukan, di mana ada 2 fungsi manajemen yaitu manajemen administratif dan manajemen operatif.

• Semakin rendah jabatan, maka lebih banyak mengerjakan fungsi manajemen operatif.

• Semakin tinggi jabatan, lebih banyak menggunakan fungsi administratif.

Menurut Stoner dan Hankel (1986), ada 3 tingkat keterampilan manajer, yaitu keterampilan teknis, keterampilan manusiawi, dan keterampilan konseptual dengan penjelasan masing-masing sebagai berikut :

1. Keterampilan teknis : kemampuan menggunakan alat-alat, prosedur, dan
teknik suatu bidang yang khusus.

2. Keterampilan manusiawi : Kemampuan untuk bekerja dengan orang lain.

3. Keterampilan konseptual : kemampuan mental untuk mengkoordinasi dan
memadukan semua kepentingan dan kegiatan
organisasi.

Bagi manajer lini pertama, bobot yang terbesar adalah keterampilan teknis diikuti keterampilan manusiawi lalu keterampilan konseptual. Semakin ke arah manajer puncak, bobot terbesar adalah keterampilan konseptual, diikuti keterampilan manusiawi, dan keterampilan teknis.